Saturday, February 15, 2020

Pendederan Ikan Nila Merah

PENDEDERAN BENIH IKAN NILA MERAH (Oreochromis sp) DI BALAI BESAR PENGEMBANGAN BUDIDAYA AIR TAWAR (BBPBAT) SUKABUMI JAWA BARAT

OLEH
RAHMA MULYANI
2010 512 030
LAPORAN PRAKTIK KERJA LAPANGAN
PROGRAM STRATA 1 ILMU PERIKANAN
FAKULTAS PERIKANAN
UNIVERSITAS PGRI PALEMBANG
2014

Pendederan Ikan Nila

Pendederan merupakan tahap lanjutan pemeliharaan pasca larva Ikan Nila Merah dari hasil pembenihan untuk mencapai ukuran tertentu yang siap dibesarkan. Pendederan artinya pemeliharaan burayak ikan setelah lepas dari asuhan induknya. Pemeliharaan dilakukan di dalam kolam atau bak khusus. Pendederan berguna untuk melindungi burayak dari gangguan hama dan kondisi lingkungan yang tidak menguntungkan (Suyanto, 1999).

Kolam pendederan ikan nila dapat berupa kolam tanah atau bak semen. Kolam pendedran ini biasanya memiliki luas dengan kisaran 250-600 m2 (Susanti, 2009). Ada lima paket teknologi penebaran atau pendederan yang dikenal dengan panca usaha budidaya ikan di kolam terbuka, yaitu persiapan kolam, pengelolahan air, pemilihan atau seleksi benih, pemberian pakan, dan pengendalian hama dan penyakit. Paket teknologi persiapan kolam meliputi pengeringan, penggemburan, pengapuran, dan pemupukan dasar kolam (Djarijah, 2002). Kolam tanah dipupuk terlebih dahulu sebelum dilakukan penebaran burayak bertujuan agar pakan alami tumbuh di kolam tersebut (Suyanto, 1999).

Persiapan Kolam Pendederan

Kolam pendederan Ikan Nila Merah (Oreochromis sp) terletak pada bagian Nila Broadstock Center (NBC) BBPBAT Sukabumi pada kolam F3. Wadah yang digunakan untuk kegiatan pendederan berupa kolam beton ukuran panjang 20 m, lebar 15 m (300 m2). Bak beton yang akan digunakan dipasang 15 buah hapa yang masing – masing berukuran panjang dan lebar 5 m x 4 m (20 m2) dengan mesh size 1,0 mm dan dipasang 4 buah pemberat pada bagian sudut dasar hapa. Kegiatan ini bertujuan agar hapa tidak mengampung saat kolam diisi air. Selanjutnya dipasang pipa aerator (Gambar 5) pada dasar kolam. Pemasangan aerator ini bertujuan untuk memberi supply oksigen.

Persiapan kolam ikan nila dilakukan dengan pengeringan air yang ada di dalam kolam serta membersihkan bagian-bagian tembok kolam. Menurut Susanto (2007), kegiatan ini bertujuan menghilangkan kotoran dan sumber penyakit. Kemudian melakukan perbaikan jika ada bagian tembok yang bocor dan memeriksa kondisi pintu pengeluaran (paralon) dan pemasukan air kolam. Kolam yang telah dibersihkan dikeringkan selama 3 hari (Gambar 4).

Pada persiapan bak beton tidak dilakukan pemupukan dan pengapuran, karena tujuan dari pengapuran sendiri, untuk mempertahankan kestabilan derajat keasaman (pH) tanah atau dasar kolam dan air (Sucipto dan Eko, 2005) dan pH air di BBPBAT Sukabumi sendiri berkisar antara 7-9, oleh sebab itu tidak dilakukan pemupukan dan pengapuran. Setelah dilakukan pengeringan kolam, kemudian dilakukan pengisian air setinggi 1 m.
Pendederan Ikan Nila Merah

Penebaran benih ikan nila

Benih yang telah dipanen, dihitung jumlahnya serta ukuran yang seragam ditebar di dalam hapa pendederan yang telah disiapkan. Penebaran dilakukan dengan memiringkan wadah yang telah berisi benih Ikan Nila Merah ke arah air secara perlahan - lahan agar terjadi aklimatisasi terlebih dahulu dengan lingkungan barunya.

Padat penebaran benih pada kolam F3 Hapa 11 (pendederan II) yaitu sebanyak 75 - 100 ekor/ m2 sedangkan pada Hapa 15 (pendederan I) yaitu sebanyak 100 - 200 ekor/ m2. Dengan luas hapa 20 m2,, maka benih yang ditebar di dalam hapa pendederan sebanyak 3.000 ekor untuk pendederan I. Sedangkan untuk pendederan II benih yang ditebar dengan luas hapa 20 m2 yaitu 2.000 ekor (Gambar 6).
Pendederan Ikan Nila Merah
Padat tebar yang tinggi  dalam penebaran dapat mengakibatkan terjadi penumpukan bahan – bahan organik di dasar kolam, baik berupa sisa – sisa pakan ataupun kotoran ikan. Jika terus dibiarkan maka akan menjadi racun bagi ikan Nila Merah yang menyebabkan kematian. Bahan – bahan organik tersebut biasanya sulit terurai. Maka di BBPBAT melakukan upaya dengan memberikan cairan probiotik lactobacillus pada masa pemeliharaan, sebagai upaya membantu menguraikan bahan-bahan organik yang sulit terurai di dalam kolam serta membantu untuk meningkatkan pertumbuhan serta kelangsungan hidup.

Probiotik didefinisikan sebagai segala bentuk pakan tambahan yang  berupa sel mikroba utuh yang menguntungkan bagi hewan inangnya melalui cara menyeimbangkan kondisi mikrobiologis inang, modifikasi bentuk asosiasi dengan inang atau komunitas mikroba lingkungan hidupnya, serta meningkatkan pemanfaatan nutrisi pakan atau meningkatkan nilai nutrisinya, dan  meningkatkan respons kekebalan inang terhadap patogen atau memperbaiki kualitas lingkungan (Gatesoupe, 1999;  Irianto, 2003; CP Prima, 2004; Gunarto dan Hendrajat, 2008).

Pemberian pakan

Pakan pada pendederan Ikan Nila Merah Selain pakan alami yang tersedia di dalam kolam seperti fitoplankton dan zooplankton, Ikan Nila Merah juga diberi pakan tambahan perupa pelet dengan kadar protein 40%. Pakan diberikan berupa pelet yang mengapung dengan ukuran nano 0,2 dan pelet yang berupa tepung (Gambar 7). Menurut SNI :6141: 2009 yaitu dosis pemberian pakan pada pendederan I sebanyak 20-30 % bobot biomasa perhari, sedangkan dosis pemberian pakan pada pendederan II sebanyak 10-20 % bobot biomasa perhari dengan frekuensi minimal 3 kali sehari yaitu, pagi, siang dan sore hari, pada pukul 09.00 WIB, 11.00 WIB, 14.00 WIB secara at siatiation.
Pakan Pendederan Ikan Nila Merah
Bentuk pakan buatan dapat disesuaikan dengan umur dan ukuran benih (bukaan mulut), benih muda ukuran kecil diberi pakan berupa serbuk tepung, benih berukuran sedang dapat diberikan pakan berupa Crumble (butiran) dengan ukuran 0,2 mm atau nano 0,2.

Kualitas air 

Kelangsungan hidup benih ikan sangat dipengaruhi oleh kualitas suatu perairan, untuk mendapatkan benih ikan yang sehat dan tumbuh dengan cepat. Apabila kualitas air kurang baik, dapat menyebabkan ikan lemah, nafsu makan berkurang, dan rentan terserang penyakit.

Pengamatan kualitas air yang dilakukan di BBPBAT Sukabumi pada kegiatan pendederan dilakukan setiap minggu sekali, dengan cara mengambil sampel air yang di masukan ke dalam botol kecil untuk menampung air yang akan di uji di laboratorium kualitas air. Berikut adalah hasil pencatatan rata-rata kualitas air selama kegiatan praktik kerja lapangan.

Data Kualitas Air Pendederan Ikan Nila Merah (Oreochromis sp) kolam F3 (H11 dan H15) di BBPBAT Sukabumi
Kualitas air Pendederan Ikan Nila Merah

1. Suhu

Berdasarkan data suhu pada kolam F3 H11 dan H15 yaitu berkisar antara 23- 25 ⁰C, hal ini dipengaruhi oleh suhu lingkungan di BBPBAT Sukabumi yang terletak di daratan tinggi yaitu 700 m di atas permukaan laut, sehingga suhu pada air juga terpengaruh. Menurut Amri dan Khairuman (2003), suhu optimal untuk pertumbuhan kisaran antara 25 - 30 ⁰C. Sedangkan suhu yang terdapat pada kolam pendederan lebih rendah dari kisaran suhu air yang optimum untuk pertumbuhan, namun Ikan Nila Merah yang dipelihara di BBPBAT Sukabumi sudah mampu beradaptasi dengan suhu lingkungan antara 23-25 ⁰C, sehingga pertumbuhan dan kelangsungan hidup masih baik.

2. Derajat Keasaman (pH)

Derajat keasaman atau pH yang ada di kolam pendederan 7- 8,5. Pada pH tersebut merupakan pH optimum dan baik untuk kegiatan budidaya ikan nila. Hal tersebut sama seperti yang dikemukaan oleh Anonim (2010) yaitu , pH air yang baik untuk kegiatan budidaya ikan nila adalah 6 – 8,5.

3. Oksigen Terlarut

 Untuk kelarutan oksigen di dalam suatu perairan (DO) yang baik untuk pertumbuhan dan pendederan Ikan Nila Merah yaitu 5-7 ppm (Kordi, 2009). Kolam pendederan benih Ikan Nila Merah pada kegiatan praktik kerja lapangan ini, nilai DO air yaitu berkisar 3-4 ppm. Nilai DO tersebut berada pada kisaran optimal untuk mendukung pertumbuhan dan kelangsungan hidup Ikan Nila Merah. Tingginya nilai DO ini diduga adanya pintu pemasukan (Intlet) dan pintu pengeluaran (Outlet) air, sehingga sirkulasi oksigen di dalam kolam cukup baik.

4. Kecerahan

Kecerahan pada kegiatan pendederan ini yaitu 40-60 cm. Dari hasil wawancara dengan petugas lapangan, penyebab terjadi keruhnya air di kolam (hapa) pendederan yaitu disebabkan oleh plankton, mengingat bak terbuat dari beton dan melimpahnya bahan-bahan organik dari sisa pakan atau fesses ikan, yang membuat perairan itu subur secara alami (tanpa pemupukan awal). Hal yang demikian juga dikemukakan oleh Kordi dan Tancung (2007), bahwa kekeruhan yang baik adalah kekeruhan yang disebabkan oleh jasad-jasad renik atau plankton.

5. Karbondioksida

Menurut Boyd, 1979 (Kordi, 2009) pada suhu 24 ⁰C kandungan karbondioksidanya sebesar 0,5 mg/l. Sedangkan jumlah karbondiokdida di kolam (hapa) pendederan yaitu 0,7 mg/l. Hal tersebut disebakan padat tebar yang tinggi sehingga metabolisme yang terjadi semakin tinggi, penggunaan oksigen tinggi, dan sisa pembakaran (Co2) tinggi, jumlah tersebut tidak membahayakan kehidupan atau pertumbuhan Ikan Nila Merah. Menurut Andianto, T.T (2009) mengemukakan bahwa, kandungan karbondioksida lebih dari 15 ppm sangat membahayakan bagi organisme yang dibudidayakan.

6. Amonia ( NH3)

Kandungan konsentrasi Amonia yang terdapat pada kolam pendederan yaitu sebesar 0,21 mg/l. Batas konsentrasi NH3 yang bisa mematikan Ikan Nila adalah 0,1 – 0.3mg/l. Oleh sebab itu untuk mencegah tingginya konsentrasi amonia, diberi perlakuan dengan menambahkan probiotik di kolam pendederan. Hal demikian juga disampaikan oleh Murtiati dkk (2006) yang melaporkan bahwa aplikasi probiotik memberikan pengaruh yang cukup baik dibandingkan dengan kontrol (tanpa probiotik) terhadap kondisi kualitas air (oksigen terlarut, amoniak, nitrit, dan nitrat). Sementara menurut Nurhidayah et al. (2007) mengemukakan bahwa aplikasi bakteri probiotik dapat menurunkan konsentrasi nitrit dan amoniak.

Sampling pertumbuhan

Pengamatan pertumbuhan bertujuan untuk mengetahui pertambahan panjang dan berat Ikan Nila Merah selama pemeliharaan, pengamatan pertumbuhan dilakukan tiap 1 minggu sekali dengan pengambilan benih menggunakan anco secara acak di sudut hapa sebanyak 30 ekor. 

Hasil berat dan panjang benih Ikan Nila Merah pada pendederan 1 dapat dilihat pada Gambar 8,9,10 dan Gambar 11.

Gambar 8. Grafik pertambahan berat Ikan Nila Merah (oreochromis sp)setiap minggu pada pendederan I
Pertumbuhan Pendederan Ikan Nila Merah
Rata – rata pertumbuhan berat Ikan Nila Merah (Lampiran. 2) dalam pengamatan pada pendederan I selama 30 hari yaitu sebesar 0,78 gram untuk berat. Dari pengamatan rata-rata pertumbuhan setiap minggunya menunjukan bahwa pertumbuhan berat  tertinggi di peroleh pada pendederan minggu ke-3 menjelang minggu ke-4 yaitu sebesar 0,54 gram, sedangkan untuk pertambahan panjang terkecil yaitu pada minggu ke-1 menjelang minggu ke-2 hanya sebesar 0,10 gram. 
Gambar 9. Grafik pertambahan panjang Ikan Nila Merah (oreochromis sp)setiap minggu pada pendederan I
Pertumbuhan Pendederan Ikan Nila Merah
Rata – rata pertumbuhan panjang Ikan Nila Merah pada pendederan I yaitu sebesar 3,72 cm, dari grafik di atas menunjukan bahwa pertambahan panjang tertinggi di peroleh pada pendederan minggu ke-3 menjelang minggu ke-4 dengan pertambahan sebesar 1,10 cm, sedangkan untuk pertambahan panjang terkecil yaitu pada minggu ke-1 menjelang minggu ke-2 yaitu sebesar 0,67 cm.

Maka dari rata-rata pertumbuhan berat dan panjang selama kegiatan Pendederan I, diperoleh hasil pertambahan panjang dan berat selama kegiatan pendederan I yaitu 0,75 gram dan 2,62 cm. Dibandingkan dengan pertumbuhan panjang dan berat dengan Ikan Nila Gesit (Warman, 2012). Pertambahan pertumbuhan berat dan panjang Ikan Nila Gesit selama pendederan I yaitu sebesar 0,97 gram dan pertambahan untuk panjang sebesar 2,07 cm. 

Dari perbandingan tersebut pertambahan berat Ikan Nila Gesit lebih besar dibanding Ikan Nila Gesit, sedangakn untuk pertambahan panajang Ikan Nila Gesit lebih rendah dibanding Ikan Nila Merah. Hal tersebut diduga diakibatkan oleh kurangnya kemampuan pasca benih dalam menyesuaikan diri terhadap lingkungan barunya yang membuat pasca benih belum mengoptimalkan pertumbuhannya.
Pendederan Ikan Nila Merah

Gambar 10. Grafik pertambahan rata- rata  berat dan panjang Ikan Nila Merah (oreochromis sp) setiap minggu pada pendederan II

Rata–rata pertumbuhan berat Ikan Nila Merah (Lampiran 3) dalam pengamatan pada pendederan II selama 30 hari yaitu sebesar 3,09 gram untuk berat. Dari pengamatan rata-rata pertumbuhan setiap minggunya menunjukan bahwa pertumbuhan berat  tertinggi diperoleh pada pendederan minggu ke-3 menjelang minggu ke-4 yaitu sebesar 1,71 gram, sedangkan untuk pertambahan berat terkecil yaitu pada minggu ke-1 menjelang minggu ke-2, sebesar 0,36 gram.
Pertumbuhan Pendederan Ikan Nila

Rata–rata pertumbuhan berat Ikan Nila Merah (Lampiran 3) dalam pengamatan panjang pada pendederan II selama 30 hari yaitu sebesar 5,73 cm. Dari  rata – rata pertumbuhan panjang menunjukan bahwa pertambahan panjang  tertinggi di peroleh pada pendederan minggu ke-2 menjelang minggu ke-3 yaitu sebesar 1,73 cm, sedangkan untuk pertambahan panjang terkecil yaitu pada minggu ke-1 menjelang minggu ke-2 yaitu sebesar 0,81 cm.

Maka dari rata-rata pertumbuhan berat dan panjang selama kegiatan Pendederan II, diperoleh hasil pertambahan panjang dan berat selama kegiatan pendederan II yaitu 2,93 gram dan 4,91 cm. Dibandingkan dengan pertumbuhan panjang dan berat dengan Ikan Nila Gesit (Jose, 2012), pertambahan pertumbuhan berat dan panjang Ikan Nila Gesit selama pendederan II yaitu sebesar 1,87 gram dan pertambaha panjang yaitu 2,05 cm. Dari perbandingan tersebut pertambahan panjang Ikan Nila Merah lebih cepat dibanding Ikan Nila Gesit, hal tersebut disebabkan oleh faktor lingkungan dan penanganan pasca panen yang kurang baik (Stres) sehingga berdampak pada pengaruh pertumbuhan berat dan panjang Ikan Nila Merah atau Ikan Nila Gesit.

Effendi (1997) menyatakan bahwa, secara sederhana pertumbuhan merupakan proses pertambahan dimensi tertentu dalam kurun waktu tertentu. Akan tetapi, pertumbuhan merupakan proses biologis yang komplek dimana banyak faktor yang mempengaruhinya. Pertumbuhan dalam individu merupakan pertambahan jaringan akibat dari pembelahan sel yang terjadi akibat kelebihan input energi dan asam amino (protein) yang berasal dari makanan. 

Menurut Heru Susanto (1988) dalam Minggawati (2006), untuk memperoleh pertumbuhan yang optimal makanan ikan harus mengandung gizi yang cukup.  Makanan ikan sebagian besar dipergunakan sebagai sumber tenaga dan mempertahankan kondisi, sedangkan selebihnya dipakai sebagai pertumbuhan badannya. 

Pemberantasan hama dan penyakit

Penyakit didefinisikan sebagai suatu keadaan fisik, morfologi dan atau fungsi yang mengalami perubahan dari kondisi normal karena beberapa penyebab dan terbagi atas 2 kelompok yaitu penyebab dari dalam (internal) dan luar (eksternal). Penyakit internal meliputi genetic, sekresi internal, imunodefesiensi, saraf dan metabolic. Sedangkan penyakit eksternal meliputi penyakit pathogen (parasit, jamur, bakteri, virus) dan non pathogen (lingkungan dan nutrisi) (BBPBAT, 2004). Oleh sebab itu untuk mencegah terjadinya hal tersebut kondisi tubuh ikan dan lingkungan harus tetap dijaga.
Untuk pemberantasan hama dan penyakit ikan pada kegiatan pendederan tidak secara khusus dilakukan, tetapi tetap dilakukan upaya penanggulangan baik secara preventif dengan melakukan pengeringan kolam dan secara provilasis dengan cara menjaga kualitas air jumlah pakan yang cukup dan terjaga kualitasnya.

Biasanya penyakit yang sering menyerang benih Ikan Nila Merah yaitu jamur akibat luka pada tubuh ikan dari handling atau penanganan yang kurang baik, jamur tersebut dapat terlihat seperti kapas yang menutupi permukaan tubuh ikan yang luka, biasanya jamur tersebut mengganggu nafsu makan ikan, serta membuat ikan menjadi lemah. Parasit lain seperti Trichodina sejenis protozoa dengan gejala klinis terjadi kerusakan pada kulit, sirip dan disertai infeksi sekunder. Beberapa infeksi menyebabkan kerusakan sirip pada bebarapa bagian dan pendarahan pada dasar sirip, dan protozoa yang sering menyerang yaitu Streptococcus dengan gejala klinis lemas, kehilangan nafsu makan, pendarahan dan bengkak pada mata, insang, organ dalam, bengkak ginjal, limpa dan hati, berenang memutar (Gambar 12).
Hama dan penyakit Pendederan Ikan Nila Merah

Pemanenan dan grading

Pemanenan benih Ikan Nila Merah pada pendederan I dan pendederan II dilakukan setelah proses pemeliharaan masing-masing dilakukan selama 30 hari. Panen dilakukan pada pagi hari pukul 06.00 WIB, bertujuan untuk menghindari peningkatan suhu agar benih tidak stres. Setelah seluruh benih dipanen, maka benih yang diperoleh dipindahkan ke dalam hapa penampungan. Kemudian dilakukan gradding untuk memperoleh ukuran yang diinginkan baik dilanjutkan untuk pendederan atau dipasarkan. Lalu dilakukan penghitungan jumlah benih secara volumetrik sampai habis. Dari hasil pemanenan diperoleh benih sebanyak 2.983 ekor pada pendederan I (H15) sedangkan pada pendederan II (H15) diperoleh total benih sebanyak 1.947 ekor. 

Kelangsungan hidup (SR) 

Dengan padat tebar awal Pendederan I 3.000 ekor/hapadan Pendederan II 2.000 ekor/ hapa maka kelangsungan hidup pada pendederan I (H15) yaitu 96,4 % dan pada pendederan II (H15) 97,3 %.
Sr Pendederan Ikan Nila Merah
Dari tabel di atas, menunjukkan bahwa masing-masing kelangsungan hidup benih Ikan Nila Merah baik pendederan I atau pendederan II sangat baik, karena Menurut Amri dan Khairuman (2008) tingkat kelangsungan hidup Ikan Nila sebesar 80-90%.
Kelangsungan hidup atau survival rate tinggi karena benih diberian pakan yang berkulitas tinggi, budidaya yang dilakukan secara intensif, serta penambahan probiotik kedalam kolam F3. Sedangkan mortalitas atau tingkat kematian tersebut diduga bahwa penanganan pasca panen benih awal yang kurang baik yang mengakibatkan benih stress dan rentan terhadap serangan penyakit.

Kesimpulan

Dari Hasil Kegiatan Praktik Kerja Lapangan (PKL) dapat diperoleh beberapa kesimpulan yaitu sebagai berikut : 
  1. Teknik pendederan Ikan Nila Merah yang dilakukan di Nila Broadstock center menggunakan probiotik banyak memperoleh keuntungan.
  2. Faktor lingkungan, pengelolahan kualitas, dan pemberian pakan yang berkualitas sangat berpengaruh terhadap kelangsungan hidup benih Ikan Nila Merah (Oreochromis sp.) yaitu kelangsungan hidup pada pendederan I (H15) yaitu 96,4 % dan pada pendederan II (H15) 97,3 %.
  3. Selama pemeliharaan benih Ikan Nila Merah (Oreochromis sp.) mengalami pertambahan berat pada pendederan I yaitu 0,75 gram dan pendederan II yaitu 2,93 gram. Sedangkan untuk pertambahan panjang pendederan I yaitu 2,72 cm dan pendederan II yaitu 3,92 cm.